A Year Full of Self-Forgiveness, yet an A Year

I should call this year, a year of the new of everything.

Di tahun ini aku mendapatkan banyak kesempatan, mendapatkan banyak pengalaman baru, mendapatkan banyak pelajaran. Dan seperti biasanya, di penghujung tahun aku selalu menulis resume perjalanan selama satu tahun kebelakang. Ya mungkin tidak bisa diingat dan diceritakan satu per satu semuanya namun yang akan kuceritakan kali ini adalah cerita perjalanan yang paling membuatku banyak belajar.

Di mulai dengan awal tahun yang sungguh super sendu. Semuanya karena kebodohan hal percintaan di 2015 yang membuatku hampir tidak memiliki energi apapun untuk menyambut 2016. Saat itu aku merasa gagal dalam menata hati dan gagal mengikhlaskan yang sudah berlalu. Tapi lama kelamaan, akhirnya semuanya kembali seperti biasa, I’ve tried to forgiving myself, semuanya ada hikmahnya. Aku kembali sadar bahwa hati ini bukan hanya untuk memikirkan kesedihan kehidupan percintaan. Hati harus selalu baik. Jadi, mungkin ini yang disebut, the time will heal your pain. Seiring 2016 berlalu, akhirnya aku kembali menjalankan aktivitas seperti biasa sebagai mahasiswa pascasarjana dan guru biologi, tanpa kegalauan remaja.

2016 tentu belum lepas dari kuliahku. Dunia perkuliahan yang kukira tidak akan pernah membuatku ragu dan sulit, justru di tahun ini menunjukkan kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang menunjukan bahwa nothing worth having comes so easily. Pertama kalinya aku ragu bahwa tidak ada artinya kuliah lagi, tanpa kuliah pun aku tetap bisa mencari pekerjaan. Banyak ko orang lain yang lebih sukses tanpa harus kuliah lagi. Pertama kalinya juga aku tertampar oleh omongan orang lain, “Aku kalau jadi kamu sih enggak akan kuliah lagi. Kuliah S2 tuh cuma ngabisin uang aja. Mending kerja atau ikut pengabdian ke desa-desa di ujung Indonesia. Lebih inspiring banget kan.” Saat aku mendengar ini, aku sedang capek sehabis mengajar seharian. Aku menangis sejadi-jadinya. Sedih banget. Enggak ada yang mengapresiasi usahaku melewati kuliah sambil kerja ini. Merasa aku tidak ada artinya. Semuanya memperlihatkan bahwa yang kulakukan ternyata hanya menyusahkan orang-orang di sekitar (kenyataan bahwa untuk S2 ini aku masih pakai uang orangtua). 

Aku pun semakin gamang. 

Jadi untuk apa S2? 

Toh kehidupan akan tetap berjalan baik-baik saja tanpa harus S2 which wasting your time, money, energy. Toh S2 enggak banyak merubah kehidupanmu sekarang? Tapi aku mencoba memaafkan diri sendiri. Ternyata ada yang salah dengan cara berpikirku sekarang. Aku yang sedang meniti karir mengajar, merasa nyaman dengan mencari uang, dan parahnya merasa but I deserve it more. Merasa sombong sudah memiliki segalanya, bisa segalanya. 

Jadi untuk apa S2? 

Kenapa S2 harus pakai uang orangtua? Kenapa egois banget? Pertanyaan ujian itu membuatku lupa dengan niatku diawal mengapa akhirnya berani mengambil resiko untuk S2. S2 bukan untuk mengejar karir, bukan untuk sebuah prestise. Aku butuh banyak ilmu untuk mengajar murid-muridku, untuk mengajar anakku nanti. Ini semua demi mimpi mama dan bapak juga. Sampai akhirnya bapak bilang,

Rezeki itu udah dikasih untuk setiap orang, ada yang dapat rezeki itu lewat beasiswa, lewat pekerjaan, lewat keluarga. Semuanya sama aja. Enggak ada yang lebih baik, enggak ada yang jelek. Semuanya sama-sama dari Allah. Daripada iri dan dengki, lebih baik banyak bersyukur.

Setelah dengar nasihat bapak itu, aku mencoba forgiving myself. Ya mungkin memang ini jalannya, enggak usah ragu dengan jalan yang sudah dipilih, toh Allah akan selalu mengikuti prasangka makhluk-Nya. Enggak usah membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain juga. Toh semuanya dilahirkan berbeda. Apapun yang terjadi sekarang tolong disyukuri. Jalani yang terbaik.

Konflik batin ini akhirnya berimbas pada pekerjaan, di tahun ini aku coba untuk mengajar di dua tempat. Dari pagi hingga sore hari mengajar. Hingga baru tiba di kosan pada malam harinya. Capek? Banget. Memang semuanya terbayar dengan salary yang diterima. Alhamdulillah mimpiku untuk mendapatkan nominal tertentu di setiap bulannya tercapai, lebih dari yang ku targetkan malah. Aku bisa menabung lebih, aku bisa melakukan yang kumau dengan hasil kerjaku sendiri. Tapi kemudian di suatu malam, aku baru tiba di kosan sekitar pukul 8 setelah mengajar non-stop dari pukul 06.30-18.15. Rasanya sampai kosan sudah enggak mau ngapa-ngapain, enggak bisa apa apa. Super capek. Lalu berpikir, ini yakin mau kaya gini terus? Nanti kesehatan gimana? Nanti gimana kuliah? Apalagi nanti gimana kalau udah berkeluarga? Saat itu bahkan aku sempat berpikir untuk menyudahi kuliah dan lebih baik cari uang saja –ini salah satu penyebab keraguanku akan S2 yang dibahas di paragraph sebelumnya, kebodohan! Tapi saat itu aku enggak bisa mundur. Baik pekerjaan dan kuliah, semuanya sudah terlanjur sign in. Pelajarannya? Yaudah jalanin aja. Enggak apa-apa sekarang capek-capek, coba semua tempat mengajar yang bikin penasaran. Sampai akhirnya nanti tahu sendiri apa yang paling kita butuhkan, apa yang kita nikmati. Well, i already decided what I need. Aku enggak butuh kerjaan dari pagi sampai malam, aku hanya butuh pekerjaan yang bikin nyaman while bisa mengembangkan kemampuanku. Sejauh ini aku merasa bersyukur aku pernah merasakan berbagai dunia mengajar di sekolah yang katanya sekolah terbaik, di tempat bimbingan belajar terbaik dengan para pengajar senior berkualitas. Dari semua tempat mengajar itu aku mendapat kan banyak pelajaran. Enggak semua sekolah berkualitas itu baik untuk gurunya, enggak semua tempat bimbingan belajar itu gampangan, enggak semua sekolah pinggiran itu susah dikembangkan. Semuanya memberikanku kesimpulan seperti itu.

Pengalamanku mengajar di sekolah yang katanya sekolah terbaik juga ternyata membuka kacamataku akan dunia pendidikan yang penuh dengan pencitraan dan beban kognitif berlebihan demi nama baik guru dan sekolah. Dunia pendidikan yang dianggap baik ternyata tidak seluruhnya baik, ada saja hal buruk didalamnya. Nobody is perfect. Jangan silau dengan kesempurnaan sesuatu karena ketika kita melihat kesempurnaan dari suatu hal, saat itu kita harus sadar bahwa justru kita sedang dibutakan. Dibutakan karena bahwasanya akan selalu ada kelemahan dibalik setiap kesempurnaan makhluk-Nya.

Pengalamanku bertahan 1 tahun di lembaga pendidikan non-formal pun tidak kalah luar biasanya. Dulu aku termasuk orang yang sangat anti dengan bimbel (meskipun pernah ikut bimbel intensif SNMPTN) but in case, i think this is not a place to build your carrier, to develop your teaching skill. Dikira yaa bimbel gitu-gitu doang, cetek lah, ngapain kuliah 4 tahun kalau cuma ngajar di bimbel. Tapi ternyata… It’s not like what i’ve thought. Dimanapun, teaching it’s not an easy things. Not at all. Aku bersyukur, di lembaga ini aku bertemu dengan banyak orang hebat yang enggak bisa disebut orang biasa aja, yang membuatku termotivasi, ada dosen universitas, staf kementerian pendidikan, guru berprestasi, guru peraih olimpiade, guru berpengalaman puluhan tahun, teman-teman fresh graduate yang punya semangat belajar tinggi, semuanya memberikan warna untuk pengembangan diriku sebagai guru. 

Di pekerjaan ini aku pun sadar bahwa setiap pekerjaan termasuk mengajar adalah bentuk penawaran jasa. Dan kita harus memberikan layanan jasa dengan semaksimal mungkin, apalagi jasanya menyangkut pendidikan anak-anak Indonesia. Di tempat ini aku juga belajar banyak materi yang bahkan sebelumnya sering kuremehkan. Aku belajar banyak melebihi persiapanku untuk mengajar di sekolah. Aku memperdalam materi, drilling berbagai jenis soal, berusaha mencari cara belajar biologi semudah mungkin agar siswa mudah mengerti juga. Semuanya memudahkan untuk pematangan dan penguasaan materi yang kumiliki. Setelah satu tahun, aku merasa banyak terbantu dengan tuntutan yang diberikan oleh lembaga ini. Berawal dari tuntutan hingga akhirnya menjadi caraku untuk terus belajar. Dari tempat ini aku belajar, bahwa selama ini ada yang salah dengan paradigmaku. Semua pekerjaan itu sama saja, apapun pekerjaannya tidak ada yang rendahan. Semuanya butuh usaha, semuanya butuh pengorbanan, semua harus dihargai. Dari pengalaman kerjaku di tahun ini, lagi-lagi aku hanya bisa, forgiving myself.

Di tahun ini, aku pun sadar bahwa people change like a season, people come and go. So does feeling. Di tahun aku benar-benar merasakan perubahan drastis akan kehidupan pertemanan. Satu persatu teman-temanku akhirnya meninggalkan Bandung, semuanya memiliki kehidupan barunya. Semuanya enggak bisa kembali seperti dulu lagi. Saat itu aku sadar bahwa pertemanan yang sebenarnya itu baru dimulai setelah kita berjauhan. Sejauh apa kita masih tetap menjalin silaturahmi saat kita tidak saling bertatap muka? Wajar kalau kita sering menjalin silaturahmi untuk bertemu dan berkomunikasi karena kita saling berdekatan. Kala berjauhan? Akankah silaturahmi tetap terjaga?

Bicara soal berjauhan, tahun ini aku masih berjauhan dengan orangtua. Rasanya sakit banget sih karena mama dan bapak hanya berdua di rumah. Apalagi beberapa minggu yang lalu mama sakit sampai harus cek darah. Sendirian. Saat itu aku nangis sambil menelfon mama, aku minta maaf belum bisa ada di samping mama saat mama butuh. Alhamdulillah mama baik-baik saja dan bilang padaku untuk fokus dulu menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan di Bandung. Pengalaman ini benar-benar membuatku berpikir bahwa aku enggak boleh egois, aku harus siapkan mental untuk segala kenyataan bahwa aku harus bisa menjadi anak yang merawat mama dan bapak suatu saat nanti. Aku sadar bahwa aku harus menyisipkan kehidupan mama dan bapak di setiap rencana hidupku ke depannya. Mama dan bapak berhak ditemani di masa tuanya, berhak bahagia sebagaimana yang sudah mereka lakukan padaku selama ini.

Urusan hati? Alhamdulillah tahun ini bebas sendu. Bebasnya hati dari sendu pun akhirnya mengimbas dari hati yang bebas dari virus merah jambu. Pertama kalinya dalam sejarah, satu tahun tanpa gebetan. Bahkan someone I crush on pun enggak ada. But wait, yakin enggak ada, Ca? Hahaha seenggaknya dia belum berhasil bikin ku menulis tentangnya di blog ini sih. Itu tandanya dia belum berhasil becoming someone i crush on. Semoga tahun depan bagian paragraf ini terupgrade in a good ways ya. Aamiin.

So I think a year full of self-forgiveness is soooo this year. Thank you for all lessons in 2016, thank you for being even more mature and patience over what I’ve been through this year. Thank you, dear self!  Should I give you, an A grade? The title of this post has answered.

Welcome to will-be-more-exciting year! A year of Master of Education, a year of new job? Or maybe a year of different marital status? 😁 Aamiin ya robbal alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s