A Year Full of Self-Forgiveness, yet an A Year

I should call this year, a year of the new of everything.

Di tahun ini aku mendapatkan banyak kesempatan, mendapatkan banyak pengalaman baru, mendapatkan banyak pelajaran. Dan seperti biasanya, di penghujung tahun aku selalu menulis resume perjalanan selama satu tahun kebelakang. Ya mungkin tidak bisa diingat dan diceritakan satu per satu semuanya namun yang akan kuceritakan kali ini adalah cerita perjalanan yang paling membuatku banyak belajar.

Di mulai dengan awal tahun yang sungguh super sendu. Semuanya karena kebodohan hal percintaan di 2015 yang membuatku hampir tidak memiliki energi apapun untuk menyambut 2016. Saat itu aku merasa gagal dalam menata hati dan gagal mengikhlaskan yang sudah berlalu. Tapi lama kelamaan, akhirnya semuanya kembali seperti biasa, I’ve tried to forgiving myself, semuanya ada hikmahnya. Aku kembali sadar bahwa hati ini bukan hanya untuk memikirkan kesedihan kehidupan percintaan. Hati harus selalu baik. Jadi, mungkin ini yang disebut, the time will heal your pain. Seiring 2016 berlalu, akhirnya aku kembali menjalankan aktivitas seperti biasa sebagai mahasiswa pascasarjana dan guru biologi, tanpa kegalauan remaja.

2016 tentu belum lepas dari kuliahku. Dunia perkuliahan yang kukira tidak akan pernah membuatku ragu dan sulit, justru di tahun ini menunjukkan kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang menunjukan bahwa nothing worth having comes so easily. Pertama kalinya aku ragu bahwa tidak ada artinya kuliah lagi, tanpa kuliah pun aku tetap bisa mencari pekerjaan. Banyak ko orang lain yang lebih sukses tanpa harus kuliah lagi. Pertama kalinya juga aku tertampar oleh omongan orang lain, “Aku kalau jadi kamu sih enggak akan kuliah lagi. Kuliah S2 tuh cuma ngabisin uang aja. Mending kerja atau ikut pengabdian ke desa-desa di ujung Indonesia. Lebih inspiring banget kan.” Saat aku mendengar ini, aku sedang capek sehabis mengajar seharian. Aku menangis sejadi-jadinya. Sedih banget. Enggak ada yang mengapresiasi usahaku melewati kuliah sambil kerja ini. Merasa aku tidak ada artinya. Semuanya memperlihatkan bahwa yang kulakukan ternyata hanya menyusahkan orang-orang di sekitar (kenyataan bahwa untuk S2 ini aku masih pakai uang orangtua). 

Aku pun semakin gamang. 

Jadi untuk apa S2? 

Toh kehidupan akan tetap berjalan baik-baik saja tanpa harus S2 which wasting your time, money, energy. Toh S2 enggak banyak merubah kehidupanmu sekarang? Tapi aku mencoba memaafkan diri sendiri. Ternyata ada yang salah dengan cara berpikirku sekarang. Aku yang sedang meniti karir mengajar, merasa nyaman dengan mencari uang, dan parahnya merasa but I deserve it more. Merasa sombong sudah memiliki segalanya, bisa segalanya. 

Jadi untuk apa S2? 

Kenapa S2 harus pakai uang orangtua? Kenapa egois banget? Pertanyaan ujian itu membuatku lupa dengan niatku diawal mengapa akhirnya berani mengambil resiko untuk S2. S2 bukan untuk mengejar karir, bukan untuk sebuah prestise. Aku butuh banyak ilmu untuk mengajar murid-muridku, untuk mengajar anakku nanti. Ini semua demi mimpi mama dan bapak juga. Sampai akhirnya bapak bilang,

Rezeki itu udah dikasih untuk setiap orang, ada yang dapat rezeki itu lewat beasiswa, lewat pekerjaan, lewat keluarga. Semuanya sama aja. Enggak ada yang lebih baik, enggak ada yang jelek. Semuanya sama-sama dari Allah. Daripada iri dan dengki, lebih baik banyak bersyukur.

Setelah dengar nasihat bapak itu, aku mencoba forgiving myself. Ya mungkin memang ini jalannya, enggak usah ragu dengan jalan yang sudah dipilih, toh Allah akan selalu mengikuti prasangka makhluk-Nya. Enggak usah membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain juga. Toh semuanya dilahirkan berbeda. Apapun yang terjadi sekarang tolong disyukuri. Jalani yang terbaik.

Konflik batin ini akhirnya berimbas pada pekerjaan, di tahun ini aku coba untuk mengajar di dua tempat. Dari pagi hingga sore hari mengajar. Hingga baru tiba di kosan pada malam harinya. Capek? Banget. Memang semuanya terbayar dengan salary yang diterima. Alhamdulillah mimpiku untuk mendapatkan nominal tertentu di setiap bulannya tercapai, lebih dari yang ku targetkan malah. Aku bisa menabung lebih, aku bisa melakukan yang kumau dengan hasil kerjaku sendiri. Tapi kemudian di suatu malam, aku baru tiba di kosan sekitar pukul 8 setelah mengajar non-stop dari pukul 06.30-18.15. Rasanya sampai kosan sudah enggak mau ngapa-ngapain, enggak bisa apa apa. Super capek. Lalu berpikir, ini yakin mau kaya gini terus? Nanti kesehatan gimana? Nanti gimana kuliah? Apalagi nanti gimana kalau udah berkeluarga? Saat itu bahkan aku sempat berpikir untuk menyudahi kuliah dan lebih baik cari uang saja –ini salah satu penyebab keraguanku akan S2 yang dibahas di paragraph sebelumnya, kebodohan! Tapi saat itu aku enggak bisa mundur. Baik pekerjaan dan kuliah, semuanya sudah terlanjur sign in. Pelajarannya? Yaudah jalanin aja. Enggak apa-apa sekarang capek-capek, coba semua tempat mengajar yang bikin penasaran. Sampai akhirnya nanti tahu sendiri apa yang paling kita butuhkan, apa yang kita nikmati. Well, i already decided what I need. Aku enggak butuh kerjaan dari pagi sampai malam, aku hanya butuh pekerjaan yang bikin nyaman while bisa mengembangkan kemampuanku. Sejauh ini aku merasa bersyukur aku pernah merasakan berbagai dunia mengajar di sekolah yang katanya sekolah terbaik, di tempat bimbingan belajar terbaik dengan para pengajar senior berkualitas. Dari semua tempat mengajar itu aku mendapat kan banyak pelajaran. Enggak semua sekolah berkualitas itu baik untuk gurunya, enggak semua tempat bimbingan belajar itu gampangan, enggak semua sekolah pinggiran itu susah dikembangkan. Semuanya memberikanku kesimpulan seperti itu.

Pengalamanku mengajar di sekolah yang katanya sekolah terbaik juga ternyata membuka kacamataku akan dunia pendidikan yang penuh dengan pencitraan dan beban kognitif berlebihan demi nama baik guru dan sekolah. Dunia pendidikan yang dianggap baik ternyata tidak seluruhnya baik, ada saja hal buruk didalamnya. Nobody is perfect. Jangan silau dengan kesempurnaan sesuatu karena ketika kita melihat kesempurnaan dari suatu hal, saat itu kita harus sadar bahwa justru kita sedang dibutakan. Dibutakan karena bahwasanya akan selalu ada kelemahan dibalik setiap kesempurnaan makhluk-Nya.

Pengalamanku bertahan 1 tahun di lembaga pendidikan non-formal pun tidak kalah luar biasanya. Dulu aku termasuk orang yang sangat anti dengan bimbel (meskipun pernah ikut bimbel intensif SNMPTN) but in case, i think this is not a place to build your carrier, to develop your teaching skill. Dikira yaa bimbel gitu-gitu doang, cetek lah, ngapain kuliah 4 tahun kalau cuma ngajar di bimbel. Tapi ternyata… It’s not like what i’ve thought. Dimanapun, teaching it’s not an easy things. Not at all. Aku bersyukur, di lembaga ini aku bertemu dengan banyak orang hebat yang enggak bisa disebut orang biasa aja, yang membuatku termotivasi, ada dosen universitas, staf kementerian pendidikan, guru berprestasi, guru peraih olimpiade, guru berpengalaman puluhan tahun, teman-teman fresh graduate yang punya semangat belajar tinggi, semuanya memberikan warna untuk pengembangan diriku sebagai guru. 

Di pekerjaan ini aku pun sadar bahwa setiap pekerjaan termasuk mengajar adalah bentuk penawaran jasa. Dan kita harus memberikan layanan jasa dengan semaksimal mungkin, apalagi jasanya menyangkut pendidikan anak-anak Indonesia. Di tempat ini aku juga belajar banyak materi yang bahkan sebelumnya sering kuremehkan. Aku belajar banyak melebihi persiapanku untuk mengajar di sekolah. Aku memperdalam materi, drilling berbagai jenis soal, berusaha mencari cara belajar biologi semudah mungkin agar siswa mudah mengerti juga. Semuanya memudahkan untuk pematangan dan penguasaan materi yang kumiliki. Setelah satu tahun, aku merasa banyak terbantu dengan tuntutan yang diberikan oleh lembaga ini. Berawal dari tuntutan hingga akhirnya menjadi caraku untuk terus belajar. Dari tempat ini aku belajar, bahwa selama ini ada yang salah dengan paradigmaku. Semua pekerjaan itu sama saja, apapun pekerjaannya tidak ada yang rendahan. Semuanya butuh usaha, semuanya butuh pengorbanan, semua harus dihargai. Dari pengalaman kerjaku di tahun ini, lagi-lagi aku hanya bisa, forgiving myself.

Di tahun ini, aku pun sadar bahwa people change like a season, people come and go. So does feeling. Di tahun aku benar-benar merasakan perubahan drastis akan kehidupan pertemanan. Satu persatu teman-temanku akhirnya meninggalkan Bandung, semuanya memiliki kehidupan barunya. Semuanya enggak bisa kembali seperti dulu lagi. Saat itu aku sadar bahwa pertemanan yang sebenarnya itu baru dimulai setelah kita berjauhan. Sejauh apa kita masih tetap menjalin silaturahmi saat kita tidak saling bertatap muka? Wajar kalau kita sering menjalin silaturahmi untuk bertemu dan berkomunikasi karena kita saling berdekatan. Kala berjauhan? Akankah silaturahmi tetap terjaga?

Bicara soal berjauhan, tahun ini aku masih berjauhan dengan orangtua. Rasanya sakit banget sih karena mama dan bapak hanya berdua di rumah. Apalagi beberapa minggu yang lalu mama sakit sampai harus cek darah. Sendirian. Saat itu aku nangis sambil menelfon mama, aku minta maaf belum bisa ada di samping mama saat mama butuh. Alhamdulillah mama baik-baik saja dan bilang padaku untuk fokus dulu menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan di Bandung. Pengalaman ini benar-benar membuatku berpikir bahwa aku enggak boleh egois, aku harus siapkan mental untuk segala kenyataan bahwa aku harus bisa menjadi anak yang merawat mama dan bapak suatu saat nanti. Aku sadar bahwa aku harus menyisipkan kehidupan mama dan bapak di setiap rencana hidupku ke depannya. Mama dan bapak berhak ditemani di masa tuanya, berhak bahagia sebagaimana yang sudah mereka lakukan padaku selama ini.

Urusan hati? Alhamdulillah tahun ini bebas sendu. Bebasnya hati dari sendu pun akhirnya mengimbas dari hati yang bebas dari virus merah jambu. Pertama kalinya dalam sejarah, satu tahun tanpa gebetan. Bahkan someone I crush on pun enggak ada. But wait, yakin enggak ada, Ca? Hahaha seenggaknya dia belum berhasil bikin ku menulis tentangnya di blog ini sih. Itu tandanya dia belum berhasil becoming someone i crush on. Semoga tahun depan bagian paragraf ini terupgrade in a good ways ya. Aamiin.

So I think a year full of self-forgiveness is soooo this year. Thank you for all lessons in 2016, thank you for being even more mature and patience over what I’ve been through this year. Thank you, dear self!  Should I give you, an A grade? The title of this post has answered.

Welcome to will-be-more-exciting year! A year of Master of Education, a year of new job? Or maybe a year of different marital status? 😁 Aamiin ya robbal alamin.

A Deep Question

Ca, sketchnya bagus. Kreatif banget. Dulu kenapa enggak kuliah di seni rupa?

Sering. Sering banget dapat pertanyaan begitu. Bahkan diri sendiri pun sering nanya sendiri. Kenapa dulu enggak kuliah di seni rupa aja. Kalau dulu kuliah di seni rupa, mungkin sekarang bisa lebih jago gambarnya, punya banyak alat lukis, punya banyak ilmu lukis (enggak melulu doodle atau sketch seadanya), atau bahkan bisa dapat penghasilan dari gambar sendiri. Kebahagiaan banget sih! Hobi yang dibayar. Sering. Sering banget kepikiran itu. Yang ujungnya jadi sok tau akan kehidupan dan enggak bersyukur.

Kalau boleh cerita, pas zaman SMA emang enggak ada keinginan sama sekali kuliah di seni rupa. Dari kecil aku emang suka menggambar. Sering ikut lomba menggambar meskipun cuma tingkat SD, RT, RW. Bapak juga sampe bilang kalau gambarku bagus-bagus sampe bilang “Nanti kuliahnya bisa di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB)” Tapi enggak kepikiran sama sekali untuk kuliah di seni rupa dan jadi painter, creative designer, atau illustrator. Yaa namanya anak kecil, dulu mah boro-boro kepikiran kuliah sespesifik itu. PR bahasa inggris gak bisa aja masih nangis. Dulu sih mikirnya yang penting menggambar itu seru. Lebih seru dibanding tugas mata pelajaran lain.

Pas SMA pun enggak ada keinginan sama sekali untuk kuliah di FSRD atau jurusan seni rupa. Padahal pas SMA makin suka gambar, gabung di tim kreatif mading, gabung jadi anak dekor setiap kepanitiaan. Dulu itu malah inginnya masuk arsitektur. Kenapa? Karena dulu ingin dapet suami arsitek haha jadi ya harus kenal dulu sama kehidupan arsitek kan? (sungguh alasan yang enggak logis!) yang akhirnya bikin orangtua terutama mama enggak ngizinin untuk kuliah di arsitektur dengan banyak pertimbangan lainnya juga (aku pernah bercerita masalah ini di blogku yang lama). Saat itu juga aku langsung nyerah aja karena mikir motivasinya enggak masuk akal. Kalau pun emang suka menggambar kan bisa dijadiin hobi aja, enggak perlu jadi profesi.

Alasan lainnya kenapa enggak kuliah di seni rupa karena kalau aku ambil jurusan seni rupa, nanti aku hanya punya kemampuan yang sama, gambar aja. Kalau nanti tiba-tiba jenuh gimana? Jadi akhirnya decided untuk enggak mendalami gambar dan lebih milih profesi lain. Alhamdulillah, minat gambarku sangat terasah di jurusan biologi. Saat kuliah S1 dulu beberapa mata kuliah sangat menuntut kemampuan menggambar, botani dan struktur hewan. Disaat teman-teman banyak mengeluh, aku enjoy sekali. Disaat teman-teman lain hanya beli pensil warna ukuran kecil 12 warna, aku sengaja beli pensil warna 24 warna. Lalu sekarang saat mengajar, pelajaran biologi sangat menuntut banyaknya gambar di papan tulis. Aku justru senaaaaaang! Intinya, sekarang disamping aku bisa mengembangkan skil menggambarku, aku pun bisa punya kemampuan lain di bidang pendidikan dan biologi. Kalau sedang jenuh mengajar dan belajar biologi, aku pasti menghabiskan malam harinya dengan menggambar. Besoknya, mood kembali dan mengajar seperti biasa lagi.

Meskipun dulu pas kuliah biologi, kalau capek praktikum, tugas laporan dimana-mana, ujian yang susah, suka mikir pasti enak banget kalau ambil kuliah seni. Tugasnya cuma gambar-gambar yang memang ku minati (meskipun kata temanku yang ambil seni rupa, teori seni rupa enggak segampang praktiknya atau sebaliknya). Sekarang udah masuk dunia kerja, kadang ada juga sedikit rasa menyesal kenapa dulu enggak kuliah seni rupa aja, atau ngambil pendidikan seni rupa gitu misalnya. Pasti sekarang enak, hasil gambarku bisa dibayar, dan ngajar pun enggak usah ribet-ribet karena bukan mata pelajaran ujian nasional. Apalagi kalau ngerasa capek ngajar biologi dan belajar biologi molekuler yang enggak ngerti-ngerti. Udah nyesel aja kenapa enggak kepikiran kuliah di seni rupa.

Tapi yaa mungkin jalannya sudah begini. Bakat menggambarku masih bisa berkembang otodidak, hasil gambarku pun sebenarnya bisa dibayar (kalau aku berani mulai menawarkan jasa menggambar misalnya). Positifnya, dengan hobi dan profesi yang berbeda, akhirnya aku bisa merasakan bahwa hiburan dan waktu luang itu sebenarnya adalah ketika kita pindah dari kegiatan 1 kegiatan lainnya. Sehingga kejenuhan bisa diatasi. Alhamdulillah aku senang dengan perbedaan kegiatan-kegiatan yang kumiliki sekarang.

 

Does it matter?

Mungkin kita semua sering mendapatkan pertanyaan yang sebenarnya sangat enggak penting tapi sering ditanyakan oleh orang-orang sekitar. Terutama pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi, a sensitive area. Aku tahu pertanyaan itu hanya sekadar basa-basi. Tapi apakah basa basi dilakukan dengan praktik yang begitu dangkalnya? Hingga membuat orang yang ditanya agak risih dan enggan untuk memperpanjang obrolan.

Pertanyaan dari mulai, “Sekarang sibuk apa?” “Skripsi/tesis udah sampai mana?” “Kapan nikah?” “Udah punya pacar belum?” Oh God! Does it matter for you? Dari beberapa orang yang pernah menanyakan pertanyaan itu kepadaku, aku sempat bertanya apa tujuannya? Mayoritas jawab karena enggak kepikiran pertanyaan lain, dan it is better than no asking. Hmm… enggak kepikiran pertanyaan lain! Ini konyol sih ya. Jadi selama ini sekolah 16 tahun enggak bisa bikin pertanyaan yang bikin orang merasa gembira dengarnya? Ada apa dengan mental orang-orang ini? Hal ini membuatku berpikir bahwa pertanyaan enggak basa-basi enggak penting itu sudah jadi stereotype dan common sense di kalangan masyarakat, katanya… daripada enggak nyapa, daripada enggak nanya. Tapi kalau bolehku bilang, daripada pertanyaannya enggak penting dan justru membuat orang yang ditanya jadi malas berbicara lebih ada baiknya jika kita diam aja, biarkan mereka bertanya duluan, atau buat pertanyaan yang berkualitas yang enggak hanya menanyakan status seseorang!

Aku pernah membaca suatu artikel inc.com tentang 3 easy ways to make a good quality conversation. Salah satu point yang sangat kusuka adalah “Make yourself interesting and memorable” Bagaimana caranya? Jadi seperti yang ditulis artikel tersebut, ada perbedaan antara obrolan orang-orang sukses dan orang yang membuang-buang waktu. Ketika orang sukses mengobrol santai atau bertemu seseorang mereka tidak pernah membicarakan pekerjaan mereka. Mereka akan cenderung membicarakan obrolan lain diluar kehidupan sehari-harinya. Dengan cerdiknya mereka mencari obrolan dan pertanyaan yang akan mengarah pada sesuatu hal baru atau informasi yang akan mereka dapatkan. In the last of article, the writer wrote: 

Think of how you can expand your knowledge and areas of interest to make yourself much more memorable when people meet you. Ask something matter and valuable.

Suatu hari aku pernah bertemu dengan teman sedari SD yang sudah lama tak jumpa. Kebetulan kami bertemu di rumah sakit tempat dia bekerja saat aku mengantarkan teman mengurus surat keterangan sehat. Sontak dia langsung menanyakan aku bekerja apa, dimana, sibuk apa saja, kapan menyusul dia menikah dan punya anak. Ku jawab seadanya. Setelahnya kucoba untuk mencari obrolan yang lebih berkelas dari sekadar membicarakan kesibukanku. Ku langsung menanyakan kabarnya, menanyakan bagaimana kabar anaknya, dan kesannya bekerja di lab rumah sakit. Seketika dia langsung menceritakan semuanya. Suasana yang tadinya awkward langsung cair. Ahh i see. A meaningful question which out of the common question could bring up the good atmosphere.

Aku berusaha untuk keluar dari stereotype pertanyaan basa basi tersebut, agak susah memang karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan. Terkadang karena orang lain menanyakan hal “enggak penting” itu terlebih dahulu, kita pun jadi ikut-ikutan menanyakan hal yang sama. Tapi kembali lagi ke tujuan awal, apakah kita ingin menjadikan setiap pertemuan itu berkesan? Jika iya maka mulainya dengan pertanyaan yang berkesan pula.

Before you ask someone, ask yourself first, does it matter? Does it valuable and necessary? Does it could make a good quality conversation? Does it make you memorable? 

Konser Musik 2016

One thing, this event is what i had been looking for in this month -FK UNPAD FAIR 2016. After waiting 2 months, finally i could watch the biggest binually event of Padjadjaran medical student that genuinely become so prestigious. So, beyond happy talking about last night and been long time since i wrote something about music concert, here i come with some of words. Hmm but maybe we should call it, a short review? Hehe

Jadi setelah dapat broadcast acara FKUNPAD FAIR 2016 di grup alumni SMA dari salah satu alumni yang sekarang kuliah di FK Unpad langsung niat ingin pergi ke acara konser musiknya. Gila meen ada Kahitna, Mocca, Tulus, Naif, The SIGIT dengan harga seratus ribu untuk yang regular (saat tau ada konser itu, tiket VVIP dan VIP udah sold out, what the…). Sebenernya sih karena aku ingin nonton Mocca dan Kahitna nya aja karena Tulus dan Naif udah pernah nonton di konser lain. Akhirnya pesen tiketnya via web dan ternyata available bank transfer-nya cuma untuk Mandiri aja sementara aku cuma ada BCA BNI hmm kadang suka males gak sih transfer antar bank tuh? Aku pun gitu dan memutuskan untuk enggak pesan tiket via web. Setelah dengar bahwa ternyata bisa beli offline tiket di beberapa cafe di Bandung akhirnya pikir ya lebih baik langsung beli di cafe aja, cash, gak ribet. Tapi ternyata enggak ada waktu! Setiap habis pulang ngajar bawaannya capek, boro-boro mau ke cafe. Dan waktu makin deket 3 Desember, tapi tiket belum ditangan, harga pre-sale udah naik jadi 120.000. Eh taunya adikku bilang kalau temannya ada yang bisa beliin tiket harga miring karena dia punya temen panitia eventnya. Waah tawaran menarik sih! Akhirnya aku jadi beli via si temennya Opi dengan harga cuma 65.000. Gak ngerti lagi kenapa bisa semurah itu!

Hari H, kebetulan aku berangkat bareng Zahra (temen kos) dan Opi, kita udah rencain untuk nonton Mocca yang di rundown bakal manggung jam 15.30. Tapi ternyata udah jam 15.30, si temennya Opi belum bisa ditemuin sementara tiketnya belum dikasih ke kita. Kita cuma duduk sedih depan Sabuga padahal di dalam Mocca udah mulai nyanyi. Kesel sih ya karena ternyata ada miskomunikasi juga sama si temennya Opi yang bikin kita jadi lama nunggu. Ngerasa sedih juga kalau sampai Mocca kelewat padahal niat awalnya ingin nonton Mocca. Tapi berusaha bikin hati enakan “Toh tiketnya cuma 65.000. Gak rugi-rugi amat.” Dan akhirnya setelah 20 menit Mocca tampil, ketinggal sekitar 3 lagu kita pun bisa masuk ke Sabuga. Lari-lari supaya sempat lihat Mocca dan akhirnya masih sempat nonton Mocca! Meskipun enggak dapat tempat depan banget tapi yaa seenggaknya masih bisa lihat Ka Arina CS dengan cukup jelas. Duuuuuuh Mocca emang everlasting! Dari zaman aku SD sampai sekarang kayanya enggak pernah mengecewakan, suara Ka Arina tetep bagus, performance-nya tetep adorable dan lagunya tetep bikin happy. Pas kita masuk Mocca lagi perform I Love You, Anyway. Lalu lanjut dengan lagu Do What You Wanna Do, Happy, Changing Fate, Secret Admirer, I Remember, Mars Persib (Ka Arina bilang karena mereka sedang di Bandung), dan terakhir ditutup dengan Me and My Boyfriend, the legend song since my elementary. Lumayan puas dengan Mocca yang ini meskipun telat! Seenggaknya mereka nyanyi lebih banyak dibanding Banda Neira saat FKUNPADFAIR2014. Mocca really melted all swinging friends. Bahkan cowok cowok disebelahku –yang sebenernya mereka nunggu The Sigit ikut nyanyi-nyanyi dan berulang kali memuji Ka Arina. See you again, Mocca! I definitely would join another your concert, for sure! Segini doang enggak puasss!!!

Next to the second performance, The Sigit. Meskipun enggak tau sama sekali dengan salah satu band rock terbaik ini tapi performance 5 rocker ini emang keren banget. Shaf paling depan mulai dijajah para cowok tepat setelah Mocca selesai tampil. Si cowok pun teriak histeris saat The Sigit muncul, sama aja ternyata layaknya cewek teriak histeris saat Tulus muncul. Disaat para cowok jingkrak-jingkrak dan ikut nyanyi sambil teriak di sepanjang The Sigit tampil, aku cuma bisa nganga doang, lagunya enggak ada satu pun yang tau tapi berhasil dibuat amazed dengan kemampuan main gitar para personilnya. Kesanku: mereka pantas dibilang band rock terbaik Indonesia. Gak heran mereka udah go international.

Setelah The Sigit, ternyata harus diselingi dulu sama performance dari anak-anak FK Unpad, Tribute to Freddie Mercury. Tapi menurutku ini agak bikin bosen juga. Kita cuma nonton choir, modern dance, dan band anak-anak FK Unpad dengan lagu-lagu Freddie Mercury. Lebih menarik Tribute to Stevie Wonders saat 2014 sih. Durasinya terlalu lama dan jeda dari The Sigit juga super lama karena ada masalah sound. Jadinya penonton sebelah dan belakangku banyak yang caci maki performance anak-anak FK Unpad itu. Sedih sih lihatnya. Tapi yaa kalau boleh jujur emang bosen banget, sampai Opi bilang, “Kayanya kita bakal lebih amazed kalau liat mereka ngobatin orang ya teh?” Hahahaha. Sorry it’s too offensive. Tapi salut juga sih mereka masih bisa nyiapin performance selama itu di tengah perkuliahan kedokteran yang enggak selow.

Daaaaan akhirnya jam setengah 8, Kahitna pun muncul. Pegel-pegel karena berdiri sejak jam 4 sore pun langsung hilang. Paraaaaaaah terharu banget! Akhirnya bisa lihat Mas Hedi Yunus, Mario, Carlo, dan Mas Yovie. Kebaperan di malam minggu langsung meningkat eksponensial. Enggak ada kekurangan sama sekaliiii! Cewek-cewek langsung teriak histeris termasuk aku. Secara ya emang tujuan nonton acara ini karena ingin lihat Kahitna. Mereka nyanyi lagu banyak bangetttt dan semuanya bikin seluruh Sabuga nyanyi bersama. Keren banget! Dari mulai Soulmate, Rahasia Hatiku, Cantik, Setahun Kemarin, Tak Sebebas Merpati, Menanti, Katakan Saja, Takkan Terganti (sampai hafal semuanya). Enggak kebayang lagi kalau nanti nonton konser khusus Kahitna doang. Baper maksimal kayanya.

Setelah Kahitna, next performance: Tulus dan Naif. Agak enggak excited sih ya karena udah pernah nonton konser mereka sebelumnya. Jadi akhirnya aku mundur dari venue festival di tengah Sabuga dan lebih milih duduk di kursi reguler karena udah super pegel dan mulai desek-desekan. Akhirnya 2 penampilan terakhir cuma nonton dari kursi penonton. Tapi tetep kerasa feelnya. Bisa lihat seluruh isi Sabuga nyanyi bareng di lagu-lagu Tulus yang enggak pernah bosan. Bikin baper juga pas Teman Hidup, Sewindu, dan Jangan Cintai Aku Apa Adanya dinyanyiin Tulus dengan tender voice-nya. As usual, Bang Tulus selalu sopan menyapa kita semua, so humble, dari awal tampil sampai terakhir semua kata-katanya sopan banget bikin betah nonton. Pokoknya meskipun udah pernah nonton Tulus sebelumnya tapi tetep seruuuuu.

And the last, si band yang selalu bikin pecah di acara apapun itu: NAIF! Parah sih parah band ini enggak ada duanyaaaa. Aku yang tadinya duduk di kursi penonton akhirnya ikut turun ke festival karena too bad banyak banget penonton festival yang langsung pergi setelah Tulus tampil (mereka enggak tau kali ya kalau Naif bakal lebih pecah?). Karena banyak penonton yang pulang, festival pun jadi agak lengang dan bisa puas loncat-loncat saat Bang David cs muncul. Seperti bisa jawaranya Naif: Jikalau, Benci untuk Mencinta, Cuma Satu bikin aku baperrr. Seperti biasa juga lagu Air dan Api, Mobil Balap, Dia adalah Pustaka… (terlalu panjang wk), dan Posesif berhasil menutup acara FKUNPADFAIR2016 in fantastic and hilarious way. Pecah bangettttttt! Aku sampai enggak kontrol ikut loncat-loncar bareng anak-anak cowok Unpad dan ITB yang kenalan saat itu haha (penting banget dikasih tau). Naif emang enggak pernah mengecewakan!

Daan malam itupun akhirnya berlalu dengan kepuasan. Rindu nonton konser pun terobati. Kadang suka mikir mumpung masih belum berkeluarga yaa puas-puasin nonton beginian. Karena ada rekan di tempat mengajar yang udah beli tiket reguler dan bahkan VIP tapi batal nonton karena alasan anak dan istri. Duh… Tapi sempet mupeng juga sih lihat ada pasangan suami-istri nonton berdua di kursi VVIP terus istrinya nyender di bahu suami sambil dengerin Tulus nyanyi Teman Hidup, perrrr baperrrr.

Yaa pokoknya semoga nanti bisa nonton acara konser musik lagi, disaat teman-temanku di Jakarta pada berburu tiket Coldplay Singapore, apalah aku yang bisa dateng ke acara ini aja udah seneng luar biasa. Hmm bahagia sederhana, bukan?